LatihIndonesia (profile in PDF)

10 Jun

Latih Indonesia training  (Silakan teken link ini…)

LatihIndonesia (Training of Professional Skills and Strategic Marketing)

7 Jun

 

LatihIndonesia

…. is non registered company, but rather a union of professionals who have spent a great deal of their lives in a profession and now feel that they need to transfer their knowledge to others. It is therefore this union is able to retrieve experts in the respective fields. LatihIndonesia believes no amount of theory can beat experience. At this point in time, the instructors are professionals who have spent 15 years and over in the fields of marketing and marketing communications. The Client will gain their experience through trainings or workshops. “It is wiser to learn from other people’s experience…”

Professional Skills Module

1. Business Presentation Skills

2. Sales Presentation Skills

3. Media Training Skills

4. Negotiations Skills

5. Customer Service Skills

6. Team Building

 

Strategic Business Development (Workshops)

1. Marketing Communications

2. Cyclo Mix – Brand DNA

3. Marketing Financial Services

 

The facilitators are those individuals who have spent a great deal of their life in the professional world and are today more than happy to share their experience with others.

Should you need further information please place a call to Turada Lapian 0811-103-748.

We will be waiting for you…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemasaran sebagai perangkat strategi di dunia Perbankan

28 Mei

Dunia perbankan  consumer di Indonesia telah lama menggunakan berbagai perangkat pemasaran untuk menjaring nasabah sejak akhir 1980 –an, awal 1990-an? Dari nasabah penabung sampai nasabah kredit. Tetapi apakah sudah mengaplikasi strategi pemasaran? Rasanya masih dapat kita ragukan.

 

Tetapi apakah benar dunia perbankan konsumer di Indonesia telah menggunakan strategi pemasaran? Ataukah sekedar menggunakan perangkat pemasaran tanpa menghayati secara mendalam strategi pemasaran itu sendiri. Dunia perbankan cukup lambat dalam beradaptasi dengan lajunya fenomena pemasaran. Tidak ayal, Bank Mandiri, Bank BRI dan Bank BCA berlomba berpromosi, yang pada ahirnya kita kenal sebagai PRIZE vs PRICE War. Inilah salah satu faktor penyebabkan BOPO perbankan sering tinggi, apalagi karena tidak ada strategi retensi, menahan DPK yang telah terjaring oleh promosi semakin mahal saja kegiatan pemasaran yang salah kaprah ini. Promosi hanya sekedar bagian taktis dari suatu strategi besar pemasaran perbankan konsumer. Perbankan konsumer di Indonesia masih saja mengandalkan perangkat yang paling elementer. Hanya menggunakan promosi dengan hadiah yang wah.

 

 

Berlainan dengan produk konsumer di Indonesia, kita dapat melihat betapa produk, misalnya rokok, begitu canggihnya mengetrapkan strategi pemasaran. Kita dapat melihat betapa produk rokok Sampoerna mengetrapkan strategi pemasaran yang melakukan akusisi dan retensi nasabahnya dengan strategi produk sampai dengan mengeluarkan fighting brand untuk memproteksi brand/produk utamanya.

 

Nah, marilah kita melihat kasus Bank BRI yang pada triwulan I 2012 telah ‘kehilangan’ DPK sebesar Rp. 41 T. Suatu bilangan yang besar. Bagaimana Bank BRI berusaha mengembalikan DPK ini melalui kegiatan promosi.

 

Promosi BRI maupun bank lainnya masih melakukan strategi pemasaran yang sangat elementer. Mungkin pemikiran promosi ini didorong oleh pemikiran sederhana:” Kita kehilangan DPK, mari  kita tarik kembali dengan memberi kemungkinan mendapat hadiah”.

 

Oleh karenanya saya berkutat dengan pendapat, sampai saat ini, belum banyak eksekutif perbankan yang mempunyai latar belakang pemasaran. Perbankan Indonesia memiliki banyak bankir, tetapi jarang ada yang mempunyai latar belakang pemasaran. Sehingga, apa yang dilakukan pada saat ini oleh para bankir adalah beriklan dengan promosi hadiah dengan harapan terjadi perbaikan pada portofolio tabungan dan kredit. Oleh karenanya, apa yang terjadi adalah nasabah berduyun-berduyun (lah) menabung demi suatu harapan yang dijanjikan oleh promosi itu. “Semoga saya memperoleh Range Rover”, demikian aspirasi nasabah.  Apa yang terjadi, begitu, promosi berhenti, begitu pula si nasabah berpaling lagi ke promosi bank lain yang memberi tawaran lain. Tidak ada yang setia pada satu promosi. Dengan demikian volatilitas tabungan yang dikenal sebagai dana murah, akan tinggi. Volatilitas dimana akusisi dana hanya akan diperoleh pada saat promosi dan hilang kembali setelah promosi berakhir. Ini adalah kegiatan yang sangat mahal. Karena banyak banker hanya memikirkan akusisi DPK tetapi tidak mengerti bagaimana menjaga DPK itu untuk tidak pergi. Bank BRI yang begitu besar bisa kehilangan dalam triwulan I, 2012 tabungan/deposito sebesar Rp. 41 T. Dan akhirnya Bank BCA dapat mengumpulkan DPK lebih besar dari Bank BRI. Seolah DPK ini tertarik kepada bank-bank swasta.  

 

Cara mengembalikan dana yang hilang itu adalah dengan cara menggelar promosi besar-besaran melalui iklan TV, Untung Puting Beliung dengan hadiah spektakuler. Dengan cara promosi ini sebenarnya menimbulkan apa yang disebut dengan Price and Prize War. Biaya yang tinggi yang didorong oleh keluarnya kembali DPK pada saat promosi berakhir dan berpindah ke bank lain yang menawarkan promosi menarik.

 

Di banyak negara consumer promotion seperti ini telah dilarang, dan tidak aneh bila Bank Indonesia akan melarangnya. Karena, promosi semacam itu hanya bisa dilakukan oleh bank besar.

 

Inisiatif ini adalah kegiatan taktis, yang memang bisa berhasil untuk sementara waktu, tetapi begitu promosi ini berhenti, mulai lagi DPK terguras.

 

Walau kegiatan ini merupakan kegiatan taktis, tetapi akan sangat mahal karena volatilitas DPK tetap tidak terjawab secara strategis.

 

Seharusnya perbankan nasional mengadopsi pemikiran pemasaran consumer goods. Sehingga pendekatan kepada akusisi DPK maupun penyaluran Kredit lebih strategis. Bagaimana pemikiran pemasaran menjadi bagian intergral dari perbankan konsumer, dan bukan sekedar menjadi pihak yang membuat leaflet. Suatu pemikiran yang sangat sederhana, karena memang kebanyakan bankir Indonesia tidak mengetahui bagaimana menjalankan perbankan konsumer. Di samping itu biayanya menjadi besar sekali.

 

Bank-bank besar dunia telah merubah cara berpikirnya dari yang dulunya mendahulukan cara pemikiran Corporate Banking yang pada dasarnya menekan biaya sebesar-besarnya dan menghasilkan pendapatan sebesar-besarnya.

 

Bank – bank besar ini telah merubah struktur organisasinya di mana ada dua entitas yang berbeda, satu adalah Corporate Banking dan yang lainnya adalah Consumer Banking. Di mana kedua bisnis unit ini hampir tidak berhubungan satu sama lain kecuali melalui treasury pool.

Dengan pemisahan entitasi bisnis secara jelas, maka diperoleh kontribusi jelas terhadap bottom line. Mungkin saja aset yang dikumpulkan oleh Consumer Banking lebih kecil dibandingkan dengan Corporate Banking tetapi NIMnya Consumer Banking bisa mencapai 3 kali dari NIM Corporate Banking.

 

Oleh karena selama ini, perbankan di Indonesia masih menggunakan pemikiran lama yang berasal dari Corporate Banking, pendekatan pemikiran masih berorientasi melulu pada biaya. Tidak aneh bila, Consumer Banking membutuhkan waktu yang lama untuk berkembang.

 

Consumer Banking, adalah portofolio yang berkepanjangan, tidak ada yang instant. Tetapi portofolionya stabil dan berkesinambungan, susah tergerus sebagaimana portofolio Corporate Banking. Karena nasabahnya relatif tidak berpindah. Kecuali kalau ada gejala yang tidak beres, sehingga nasabah menarik dananya secara tiba-tiba.

 

Nah, saat ini di tengah kompetisi Consumer Banking yang saat ini ditandai dengan the most basic consumer marketing, yaitu promosi yang jor-joran membuat persaingan menjadi Prize vs Price.

 

Ini berbahaya, karena dengan promosi seperti ini memperkecil NIM dari perbankan dan menjadi bernuansa volatilitas tinggi. Di mana ada hadiah menarik, di situ nasabah akan menggulirkan dananya. Bila ada bank lain yang memberi hadiah lebih menarik kembali dana nasabah tergerus, tanpa ada yang dapat menahannya.

 

Padahal, Consumer Banking adalah tidak berbeda perusahaan pemasaran lain seperti Unilever, Kao atau Proctor & Gamble. Di mana yang dicari adalah apa yang dibutuhkan pasar, bahkan mencari apa yang belum menjadi kebutuhan nasabah. Kemudian menyediakan produk yang dapat memenuhi kebutuhan ini. Sehingga layanan pada point of sales menjadi penting adanya.

 

Di lihat dari sifat perbankan di mana yang di’jual’ sebenarnya adalah kepercayaan, Consumer Banking juga harus memiliki produk yang menarik baik dari segi DPK maupun Aset. Sehingga secara umum yang penting di luar kepercayaan yang ditandai dengan ATM di mana nasabah bisa menarik dananya kapan saja dan di mana saja dan luasnya jaringan cabang, adalah, produk, pricing, riset dan peka terhadap kompetisi. Drivers-nya adalah teknologi informasi. Tentunya pada bagian akhir adalah periklanan dan promosi. Itu lah inti dari strategi Consumer Banking.

 

 Menyadari hal ini, Citibank memelopori Consumer Banking  di dunia di akhir tahun 1980-an awal 1990 an.

 

Citibank merubah struktur organisasinya menjadi Global Corporate Banking dan Global Consumer Banking. Pemisahan seperti ini seolah menjadi 2 perusahaan berbeda dengan fokus yang berbeda.

 

Untuk Global Consumer Banking sebagai usaha mandiri, di tata dengan mengedepankan aspek pemasaran. Sebegitu rupa, sampai petinggi Citibank mengatakan “we are not a bank, we are a consumer company who accumulates money and sells it”.

 

Citibank pada awal 1990-an merekrut ahli pemasaran dari berbagai perusahaan misalnya dari Kentucky Fried Chicken, Pizza Hut, Unilever, Proctor & Gamble dan berbagai perushaan periklanan. Ini juga berlaku di Indonesia.

 

Mereka-mereka ini yang memimpin Global Consumer Banking Citibank. Sedangkan pengetahuan perbankan secara lambat laun diperoleh melalui berbagai pelatihan intensif.

 

Tetapi sebagaimana pemimpin tertinggi Citibank mengatakan pada waktu itu:” Don’t worry about banking, we will do it “ “You marketeers lead us in penetrating the market”.

 

Suatu terobosan luar biasa berani yang dilakukan Citibank pada waktu itu. Namun ternyata, hari ini di Citibank pemikiran pemasaran ala perusahaan konsumen lainnya sudah tertanam.

 

Kita dapat melihat, betapa setelah kartu kreditnya dilarang untuk menambah nasabah selama 2 tahun akibat ‘pembunuhan’ nasabah kartu kreditnya, Citibank secara inovatif melahirkan Ready Credit suatu produk kredit cerukan dengan limit Rp. 100 juta. Ternyata produk ini laku keras di pasar.

 

Pertanyaan kita yang asing dengan Consumer Banking adalah apakah kita harus beriklan? Jawabannya tidak ! Apakah kita harus selalu mengadakan promosi hadiah? Jawabannya tidak !.

 

Percuma saja kalau kita beriklan promosi dengan hadiah besar dan tidak dapat menjaga portofolio DPK dengan baik. Salah-salah, dana yang masuk  sebagai DPK akan ‘lari’ kembali setelah promosi berahir.

 

Bankir Indonesia pada saat ini tidak banyak yang mengerti tentang pemasaran, sehingga cara pendekatannya adalah menjaga Cost of Funds. Suatu pemikiran yang dilandasi pada pemikiran Corporate Banking. BOPO yang tinggi adalah ketakutan dan harus diatasi. Cara berpikir Consumer Banker berbeda, BOPO yang tinggi akan menghasilkan Market Share yang semakin besar. Sehingga keuntungan yang besar akan terjadi bila mencapai Market Share yang signifikan.

 

Bank di Indonesia yang berusaha mengetrapkan pemikiran Consumer Banking adalah Bank BCA dan dalam artian yang lebih kecil adalah Bank Mandiri. Sedangkan bank lainnya masih mengandalkan iklan promosi hadiah sekali-sekali dengan harapan mendapatkan akusisi tetapi tidak lama kemudian kehilangan apa yang mereka dapatkan. Kita dapat lihat betapa BRI sebagai bank yang mempunyai basis DPK yang kuat, kehilangan Rp. 41 T yang dikabarkan di media pada bulan Maret 2012. Saat ini bank yang mempunyai Aset lebih kecil, BCA, mempunyai DPK yang lebih besar dari Bank BRI. 

 

Bank BRI bila kita simak melalui pemberitaan media, secara sadar atau tidak, berusaha menjadi bank Consumer seperti Bank BCA dan Bank Mandiri yang menyasar kelas menengah dan atas. Sedangkan fondasi kekuatan luar biasa Bank BRI seolah diabaikan. Bank BRI yang mempunyai brand DNA untuk kalangan rakyat kecil, tiba-tiba mengeluarkan kartu Platinum dan mensponsori High Fashion. Kedua kegiatan ini bertentangan dengan persepsi yang selama ini dibangun oleh Bank BRI sebagai bank untuk kalangan rakyat kecil.

 

Apa yang terjadi? Karena Bank BRI tidak biasa dan tidak mengenal masyarakat menengah dan atas, tidak menyiapkan produk untuk kalangan ini. Sedangkan kalangan rakyat, kurang digubris. Akibatnya kalangan menengah atas maupun rakyat pedesaan beralih bank, dan Bank BRI kehilangan DPK yang signifikan Rp. 41 T.

 

Tentunya observasi ini masih belum lengkap, tetapi bisa menjadi buah pikir untuk kita semua, khususnya bagi pelaku perbankan konsumen.

 

Kesimpulan:

  1. Sebaiknya kita tentukan secara strategis apa kita betul-betul mau bekerja di dalam konsumer banking.
  2. Bila jawabannya Iya:
    1. Reorganisasi, menjadi Consumer Banking dan Corporate Banking
    2. Rekrut ahli pemasaran konsumen. Bank hanya dapat merekrut ahli pemasaran yang handal dan senior bila diberikan posisi yang tinggi.
    3. Letakan para ahli pemasaran konsumer sebagai pemimpin bank. Bukan seperti sekarang, di mana para ahli ini diletakan jauh di bawah dalam tatanan organisasi. Dan ahirnya mereka ini hanya memproduksi leaflet dan material pemasaran.
    4. Biarkan ahli pemasaran ini membuat rencana pemasaran yang strategis dan hindari pemikiran yang taktis tanpa landasan strategis.
    5. Produk adalah inti dari Consumer Banking. Kita dapat melihat betapa Gadai Emas dan KLM dari Bank BRI Syariah berhasil luar biasa.
    6. IT, ATM dan jaringan cabang yang mumpuni adalah infrastruktur perbankan konsumer.
    7. Bila memang mau masuk ke dalam Consumer Banking, kita harus berani dengan BOPO yang tinggi sebagai awal.
    8. Kita harus menyadari filosofi pemasaran produk konsumen, berbeda jauh dengan corporate banking. Corporate Banking, mengandalkan penjualan, sedangkan Consumer Banking menyasar Pangsa Pasar. Dengan mencapai pangsa pasar yang besar, portofolio kredit dan aset menjadi stabil.

 

 

May 2012

 

Turada Lapian

Pengamat pemasaran perbankan konsumer

 

 

 

 

Self Destructive Prophecy suatu gaya intelektualitas?

26 Jan

Hidup manusia sering ditentukan bagaimana kita melihat hidup ini, ada sebagian dari kita yang berpikir hidup ini dengan penuh optimis dan sebagian lagi yang berpikir penuh dengan pesimistis. Di Indonesia, dilihat dari pemberitaan media, banyak di antara para ekonom maupun analis mengambil sisi pesimistis. Entah untuk mengingatkan pemerintah, atau sekedar untuk memperlihatkan ke-pandai-annya. Menurut hemat kami sebaiknya bila mau mengingatkan pemerintah, sekaligus memberikan solusi.

Gaya ini kami sebut sebagai‘self destructive prophecy’  dari para ahli ekonomi maupun analis, di mana diperediksi inflasi 2012 akan mencapai 6% (target 5,3%)di atas perkiraan pemerintah dan pertumbuhan ekonomi hanya akan mencapai 5,8% (target 6% – 6,7%) sedangkan penyaluran kredit hanya akan mencapai 20% (target 24%- 25%). Alasannya adalah krisis Eropa yang berkepanjangan. Suatu alasan yang terlihat agak ‘obsessive compulsive’, suatu kepercayaan bahwa ekonomi Indonesia tergantung kepada kemajuan Eropa. Padahal perbankan telah mengatakan exposure ke Eropa dan AS hanya sekitar 20% dan bila seluruh portofolio itu default maka CAR perbankan Indonesia masih di atas 15% (CAR yang ditetapkan Basel Accord adalah 8%). Sedangkan akibat naiknya peringkat kelayakan investasi Indonesia dengan penyediaan lahan investasi akibat MP3EI yang akan memerlukan dana sekitar Rp. 444 T dapat diperkirakan di tahun-tahun mendatang iklim investasi akan meningkat dengan baik dan menjadi inceran dari dana dunia untuk melakukan investasi di Indonesia.  Sebaiknya kritikus ‘ahli’ mencari solusi ketimbang mengkritik dan terus menerus memberi proyeksi ekonomi yang suram.

Terlihat bagaimana seluruh analisis yang negatif ini terdorong oleh dinamika index harga saham gabungan (IHSG) Indonesia, bila terjadi kontraksi pada pasar modal Eropa, maka IHSG juga ikut. Padahal nilai kapitalisasi pasar modal adalah sekitar 35% dari PDB Indonesia. Bila dibandingkan dengan AS ataupun Eropa nilai kapitalisasi pasar bisa 2 kali lipat dari PDB negara. Sehingga bila terjadi koreksi tajam pada pasar modal di negara-negara itu akan sangat mempengaruhi ekonomi. Tidaklah halnya dengan Indonesia. Perkembangan IHSG memberi indikasi mengenai minat investor terhadap ekonomi Indonesia dan belum berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia.

Terlihat betapa IHSG telah menembus level 4.000, suatu level tertinggi yang pernah dicapai pada bulan Agustus 2011 lalu. Ini menandakan bahwa investor asing tertarik kepada Indonesia, khususnya setelah peningkatan peringkat pengelolaan hutang oleh Moody’s Investment and Fitch Ratings Agency. Bila investor pasar modal saja sudah ‘tertarik’ dengan Indonesia bisa diharapkan ekonomi Indonesia bisa berkembang dengan baik di 2012.

Nampaknya pemerintah untuk kali ini bersungguh untuk mengetrapkan pembatasan BBM subsidi. Mobil pribadi mulai tanggal 1 April diharuskan untuk menggunakan BBM non subsidi atau berpindah ke BBGas. Menurut para ekonom, hal ini akan berdampak kepada naiknya inflasi sebesar 0,8%. Industri mobil pun berpendapat akan menurunnya penjualan akibat kebijakan BBM ini. Karena sekarang mobil baru di kelas menengah dan yang paling banyak terjual harus memikirkan bagaimana memasang alat konversi untuk BBGas. Sedangkan harga Pertamax sungguh tinggi hampir mencapai 2 kali lipat dari harga Premium. Menarik untuk disimak bagaimana perkembangan kebijakan BBM subsidi dan dampaknya terhadap ekonomi Indonesia. Sementara ini, diperkirakan kebijakan ini akan menaikkan inflasi dengan 0,8%. Menarik untuk disimak betapa, pemerintah masih tidak terorganisir dalam mengambil kebijakan mengenai BBM subsidi ini. Betapa, setelah gonjang ganjing mengenai BBM subsidi baru diketahui Pertamina tidak sanggup dalam hal pengadaan Pertamax. Sebab dari 6 kilang minyak Pertamina hanya 2 kilang yang memproduksi Pertamax dan untuk mengkonversi atau mengadakan kilang baru diperlukan waktu 2 sampai 4 tahun. Mudah disimpulkan bahwa pemerintah ‘terpaksa’ akan menaikkan harga BBM subsidi.

Yang menjadi masalah adalah menaikkan harga BBM subsidi yang berisiko menaikkan inflasi lebih dari 0,8%, tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah keresahan sosial yang dapat ditimbulkan. Hal ini dapat terlihat dengan kasus gejolak sosial yang terjadi di Nigeria.

Kementrian Keuangan mencatat subsidi BBM pada 2011 mencapai Rp. 165,2 T atau 127% dari subsidi APBN-P 2011 yang Rp. 129,7 T. Untuk 2012, dianggarkan untuk BBM subsidi Rp. 123,6 T. Sedangkan diperkirakan dengan menaikkan harga BBM subsidi dengan Rp. 1.000 akan menghemat anggaran subsidi sebesar Rp. 38 T. Dengan demikian bila dibandingkan dengan realisasi subsidi BBM tahun 2011 sebesar Rp. 165,2 T, diperlukan menaikkan harga BBM subsidi dengan Rp. 1.500 dengan demikian penghematan yang terjadi Rp. 57 T. Diperkirakan harga BBM subsidi menjadi Rp. 6.000 per liter.

Pemerintah akhirnya tidak mau sendirian dalam pengambilan keputusan ini dan menyerahkannya kepada DPR.

Risiko pengelolaan BBM subsidi inilah yang menjadi batu sandungan bagi perekonomian Indonesia. Bila salah langkah, dapat terjadi inflasi yang tidak terkendali atau yang lebih buruk adalah gejolak sosial yang bermanifestasi kepada demo rakyat.

Dulu ada ide untuk mengadakan pembatasan BBM subsidi dengan membatasinya secara administratif. Apakah dari tahun pembuatan kendaraan atau pembatasan administratif lainnya. Kebijakan seperti ini dalam kondisi sekarang ini semakin masuk akal.  Paling tidak pengamanan sosial politik dapat terjaga.

Yang penting sebagai bangsa, mari kita mencari jalan keluar dari masalah dan tidak saja melontarkan self destructive prophecy. Indonesia memerlukan pemikiran untuk keluar dari masalah-masalahnya bukan hanya kritik.

Tamat.

Rangkuman perekonomian Indonesia 2011 ke 2012

9 Jan

Perbankan Indonesia di tahun 2011 merupakan tahun kegemilangan bagi perbankan Indonesia. Bagaimana tidak keuntungan agregat perbankan tahun ini mencapai Rp. 63,6 Triliun. Suatu angka yang fantastis. Patut kita semua bersyukur kepadaNya.

Di tengah gemuruh krisis Eropa dan Amerika Serikat, Indonesia memperoleh penilaian dalam penanganan hutangnya dari Fitch Rating Agency menjadi BBB -/- dengan Outlook positif. Suatu prestasi di tengah keadaan dunia ‘utara’ saat ini.

Sebagai dampak dari perolehan kenaikan peringkat ekonomi Indonesia, perbankanpun memperoleh kenaikan pemeringkatan. Berikut ini adalah pemeringkatan itu.

Bank Rating sebelum Rating Upgrade Outlook
Mandiri BB + BBB – Stabil
BRI BB + BBB – Stabil
BCA BB + BBB – Stabil
BNI BB + BBB – Stabil
BII BB + BBB Stabil
CIMB Niaga BB + BBB Stabil
OCBC NISP BB + BBB Stabil

Tentu peningkatan pemeringkatan menggembirakan. Tetapi yang terpenting adalah status Outlook-nya yang Stabil bagi perbankan. Berarti kenaikan pemeringkatan bisa terus terjadi dan memang aman untuk menginvestasikan dana ke bank-bank ini. Berlainan bila mempunyai outlook Negatif, yang menggambarkan betapa risikonya tinggi untuk berinvestasi di perusahaan yang mempunyai outlook seperti itu.

Tentu di balik yang ‘manis’ ada juga ‘pahit’, bahwa ternyata Indonesia mempunyai Suku Bunga Dasar Kredit yang paling tinggi di kawasan Asia. Hal ini yang membuat Bank Indonesia khawatir. Bank Indonesia terus berusaha menurunkan suku bunga dengan berbagai upaya. Tetapi perbankan nasional belum juga meresponse secara seksama.  Tingginya suku bunga kredit bank di Indonesia membuat iklim bisnis dan investasi kurang kondusif. Akibatnya, daya saing nasional pun merosot. Industri lokal sulit bangkit untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik karena kalah bersaing dengan produk impor yang harganya lebih kompetitif. Bunga kredit seharusnya 8%. Sebagai contoh, Thailand 3,3%; Singapura 4,3%; Brunei 5,5%; Malaysia 6,6%; Filipina 6,6%, Vietnam 10,4%; Indonesia 11,9%; Laos 12,5%.

Perekonomian Indonesia di 2011:

Berbagai asumsi Makro dalam anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan (APBN-P) 2011, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar rupiah, dan harga minyak mentah dipastikan akan tercapai, bahkan melebihi target. Hanya asumsi lifting minyak yang meleset.

Asumsi Makro 2010 – 2012

Uraian 2010 Realisasi 2011 APBN-PAPBN-P                          Realisasi 2012 APBN
Pertumbuhan Ekonomi 6,1% 6.5%                               6,5% 6.7%
Inflasi 7.0% 5.65%                             3,8% 5,3%
Nilai Tukar 9.087 8.700                              8.779 8.800
Tingkat bunga SPN 3 bulan 6.6% 5.6%                                5% 6.0%
Harga Minyak ICP (U$/barel) 79.4 95                                    111 90
Lifting Minyak (ribu barel/hari 951 945                                  905 950

Dengan melihat indikator di atas jelas terlihat keberhasilan pemerintah untuk menstabilkan dan meningkatkan kinerja ekonomi Indonesia. Dengan melihat realisasi 2010 vs realisasi 2011, tidaklah terlalu sulit untuk melihat asumsi makro 2012 akan tercapai. Apalagi bila MP3EI dengan dana sekitar Rp. 400 T akan mulai digelar tahun ini. Hampir dapat dipastikan dalam tahun-tahun mendatang akan terjadi percepatan ekonomi.

Namun berbagai analisis meragukan akan tercapainya asumsi makro 2012, dikarenakan dampak krisis Eropa dan Amerika. Padahal perbankan Indonesia menurut Bank Indonesia hanya mempunyai eksposur di ke kedua benua ini sebesar 20%. Dikatakan juga bila seluruh portofolio ke kedua benua ini default perbankan Indonesia masih akan mempunyai CAR 16%. (Angka yang jauh di atas Basel Accord sebesar 8%).

Untuk pasar modal Indonesia, IHSG ternyata tidak ditutup pada akhir tahun sesuai dengan prediksi analis pasar modal yaitu level 4.000. Namun, secara pelahan level IHSG menanjak dan tidak mustahil di tahun 2012 akan mencapai 5.000 sesuai dengan perkiraan analis. Ini disebabkan oleh mengalirnya modal dari negara-negara karena meningkatnya peringkat kesanggupan ekonomi Indonesia membayar hutang.

Semua indikator ekonomi yang baik ini berdampak kepada meningkatnya kalangan menengah di Indonesia yang sekarang telah mencapai 40 juta orang. Suatu kekuatan ekonomi yang luar biasa untuk mendongkrak PDB Indonesia di tahun 2012. (PDB=Investasi + Konsumsi + Selisih Expor dikurangi Impor).

Pemerintah untuk tahun depan harus bisa menurunkan suku bunga kredit, menjaga agar harga BBM Subsidi tidak naik dan menjaga stok bahan pangan agar harga sembako tidak naik dan tentunya iklim politik sosial yang ahir-ahir ini meningkat.

Hidup Indonesia! Mari kita menyambut 2012 penuh dengan optimisme! Semangat!

A glimpse on Turada

8 Des

Turada Lapian is a senior financial marketing consultant with over 32 years of experience in the private sector. His experience in marketing has been developed since early in his career. Turada had taken the lead and was part of the team in conceiving the consumer banking in Indonesia through Citibank Indonesia. The consumer banking proposition of Citibank was conceived in Indonesia and then transferred to other countries including the US and Europe. Customer Relations Management was one of the corner stones of delivering consumer proposition to the customer. Marketing and marketing communications experience was acquired by Turada during his tenure in the field of advertising and public relations, where he held senior positions in these respective fields. Turada was the Marketing Director/Spokesperson of the bank and was a leader in developing new consumer products in the consumer finance field, while another bank he worked for was Bank PDFCI a corporate banking institution.  He has demonstrated understanding of corporate management as well as knowledge on how to draw diverse sectors together to work on common goals, this embodies his management orientation that cohesive teamwork is key to obtaining good results. He has demonstrated skills in using acceptable cultural practices in the Asian workplace to further client goals and has received recognition for his skills by being awarded as a Top Executive in Indonesia (1991) and being included in the ASEAN WHO’s WHO 1992 volume.

Since 2000, Turada has also dwelled in the field of social marketing, part as a paid consultant and the part consists of pro-bono work. Using his own words, “Working for a social cause on a pro-bono basis is quite soothing for the soul”.

In 2007, he joined World Vision International in Indonesia one of the largest international Non Government Organization in the world focusing on the welfare of children. World Vision is a Christian organization that does not proselytize in exchange of its assistance towards the poor. In fact this is prohibited. He left World Vision when he came to a point where he disagreed with the management of the organization. The separation went well, and what was left was good memories. The scope of his responsibilities as Group Director was to supervise and coordinate the Communications Director, Finance Director, Human Resources Director, IT Director and Procurement Dept. It seems the job assignment was tailored to his multi experiences.

Today, as of 2011, Turada is working on his own dwelling on what he knows best which is the marketing of financial services.

He also is a trainer in:

1. Business presentation skills

2. Sales presentation skills

3. Media training skills

4. Negotiation skills

5. Marketing Financial Services

6. Customer service sales skills

7. Marketing Communications

8. CycloneMix 

Turada believes that a marketing thrust that combines, first and foremost a good and attractive product coupled by excellent service and promoted through advertising and public relations will reap the success. What about pricing? Turada comments: “That is where market segmentation comes in…” “Pricing will depend on what kind of product one is catering and how advanced the technology or artistic message is. Whether the product is for high end or the mass”, he concluded.

Hello world!

8 Des

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.