Self Destructive Prophecy suatu gaya intelektualitas?

26 Jan

Hidup manusia sering ditentukan bagaimana kita melihat hidup ini, ada sebagian dari kita yang berpikir hidup ini dengan penuh optimis dan sebagian lagi yang berpikir penuh dengan pesimistis. Di Indonesia, dilihat dari pemberitaan media, banyak di antara para ekonom maupun analis mengambil sisi pesimistis. Entah untuk mengingatkan pemerintah, atau sekedar untuk memperlihatkan ke-pandai-annya. Menurut hemat kami sebaiknya bila mau mengingatkan pemerintah, sekaligus memberikan solusi.

Gaya ini kami sebut sebagai‘self destructive prophecy’  dari para ahli ekonomi maupun analis, di mana diperediksi inflasi 2012 akan mencapai 6% (target 5,3%)di atas perkiraan pemerintah dan pertumbuhan ekonomi hanya akan mencapai 5,8% (target 6% – 6,7%) sedangkan penyaluran kredit hanya akan mencapai 20% (target 24%- 25%). Alasannya adalah krisis Eropa yang berkepanjangan. Suatu alasan yang terlihat agak ‘obsessive compulsive’, suatu kepercayaan bahwa ekonomi Indonesia tergantung kepada kemajuan Eropa. Padahal perbankan telah mengatakan exposure ke Eropa dan AS hanya sekitar 20% dan bila seluruh portofolio itu default maka CAR perbankan Indonesia masih di atas 15% (CAR yang ditetapkan Basel Accord adalah 8%). Sedangkan akibat naiknya peringkat kelayakan investasi Indonesia dengan penyediaan lahan investasi akibat MP3EI yang akan memerlukan dana sekitar Rp. 444 T dapat diperkirakan di tahun-tahun mendatang iklim investasi akan meningkat dengan baik dan menjadi inceran dari dana dunia untuk melakukan investasi di Indonesia.  Sebaiknya kritikus ‘ahli’ mencari solusi ketimbang mengkritik dan terus menerus memberi proyeksi ekonomi yang suram.

Terlihat bagaimana seluruh analisis yang negatif ini terdorong oleh dinamika index harga saham gabungan (IHSG) Indonesia, bila terjadi kontraksi pada pasar modal Eropa, maka IHSG juga ikut. Padahal nilai kapitalisasi pasar modal adalah sekitar 35% dari PDB Indonesia. Bila dibandingkan dengan AS ataupun Eropa nilai kapitalisasi pasar bisa 2 kali lipat dari PDB negara. Sehingga bila terjadi koreksi tajam pada pasar modal di negara-negara itu akan sangat mempengaruhi ekonomi. Tidaklah halnya dengan Indonesia. Perkembangan IHSG memberi indikasi mengenai minat investor terhadap ekonomi Indonesia dan belum berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia.

Terlihat betapa IHSG telah menembus level 4.000, suatu level tertinggi yang pernah dicapai pada bulan Agustus 2011 lalu. Ini menandakan bahwa investor asing tertarik kepada Indonesia, khususnya setelah peningkatan peringkat pengelolaan hutang oleh Moody’s Investment and Fitch Ratings Agency. Bila investor pasar modal saja sudah ‘tertarik’ dengan Indonesia bisa diharapkan ekonomi Indonesia bisa berkembang dengan baik di 2012.

Nampaknya pemerintah untuk kali ini bersungguh untuk mengetrapkan pembatasan BBM subsidi. Mobil pribadi mulai tanggal 1 April diharuskan untuk menggunakan BBM non subsidi atau berpindah ke BBGas. Menurut para ekonom, hal ini akan berdampak kepada naiknya inflasi sebesar 0,8%. Industri mobil pun berpendapat akan menurunnya penjualan akibat kebijakan BBM ini. Karena sekarang mobil baru di kelas menengah dan yang paling banyak terjual harus memikirkan bagaimana memasang alat konversi untuk BBGas. Sedangkan harga Pertamax sungguh tinggi hampir mencapai 2 kali lipat dari harga Premium. Menarik untuk disimak bagaimana perkembangan kebijakan BBM subsidi dan dampaknya terhadap ekonomi Indonesia. Sementara ini, diperkirakan kebijakan ini akan menaikkan inflasi dengan 0,8%. Menarik untuk disimak betapa, pemerintah masih tidak terorganisir dalam mengambil kebijakan mengenai BBM subsidi ini. Betapa, setelah gonjang ganjing mengenai BBM subsidi baru diketahui Pertamina tidak sanggup dalam hal pengadaan Pertamax. Sebab dari 6 kilang minyak Pertamina hanya 2 kilang yang memproduksi Pertamax dan untuk mengkonversi atau mengadakan kilang baru diperlukan waktu 2 sampai 4 tahun. Mudah disimpulkan bahwa pemerintah ‘terpaksa’ akan menaikkan harga BBM subsidi.

Yang menjadi masalah adalah menaikkan harga BBM subsidi yang berisiko menaikkan inflasi lebih dari 0,8%, tetapi yang lebih mengkhawatirkan adalah keresahan sosial yang dapat ditimbulkan. Hal ini dapat terlihat dengan kasus gejolak sosial yang terjadi di Nigeria.

Kementrian Keuangan mencatat subsidi BBM pada 2011 mencapai Rp. 165,2 T atau 127% dari subsidi APBN-P 2011 yang Rp. 129,7 T. Untuk 2012, dianggarkan untuk BBM subsidi Rp. 123,6 T. Sedangkan diperkirakan dengan menaikkan harga BBM subsidi dengan Rp. 1.000 akan menghemat anggaran subsidi sebesar Rp. 38 T. Dengan demikian bila dibandingkan dengan realisasi subsidi BBM tahun 2011 sebesar Rp. 165,2 T, diperlukan menaikkan harga BBM subsidi dengan Rp. 1.500 dengan demikian penghematan yang terjadi Rp. 57 T. Diperkirakan harga BBM subsidi menjadi Rp. 6.000 per liter.

Pemerintah akhirnya tidak mau sendirian dalam pengambilan keputusan ini dan menyerahkannya kepada DPR.

Risiko pengelolaan BBM subsidi inilah yang menjadi batu sandungan bagi perekonomian Indonesia. Bila salah langkah, dapat terjadi inflasi yang tidak terkendali atau yang lebih buruk adalah gejolak sosial yang bermanifestasi kepada demo rakyat.

Dulu ada ide untuk mengadakan pembatasan BBM subsidi dengan membatasinya secara administratif. Apakah dari tahun pembuatan kendaraan atau pembatasan administratif lainnya. Kebijakan seperti ini dalam kondisi sekarang ini semakin masuk akal.  Paling tidak pengamanan sosial politik dapat terjaga.

Yang penting sebagai bangsa, mari kita mencari jalan keluar dari masalah dan tidak saja melontarkan self destructive prophecy. Indonesia memerlukan pemikiran untuk keluar dari masalah-masalahnya bukan hanya kritik.

Tamat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: